250 Ilmuwan Temukan Sinyal Langka di Bekas Tambang Emas AS, Diduga Petunjuk 'Materi Gelap'
JAKARTA — Sebuah kolaborasi sains internasional yang melibatkan 250 ilmuwan dan insinyur dilaporkan berhasil mendeteksi sinyal partikel tak lazim dari kedalaman tanah di South Dakota, Amerika Serikat. Temuan ini digadang-gadang sebagai salah satu petunjuk paling meyakinkan dalam upaya mengungkap keberadaan dark matter atau materi gelap di alam semesta.
Eksperimen bernama LUX-ZEPLIN (LZ) ini mendeteksi interaksi partikel misterius menggunakan tangki berisi xenon cair berukuran raksasa di Sanford Underground Research Facility (SURF), sebuah kawasan bekas tambang emas bawah tanah.
Sinyal langka tersebut dipaparkan oleh peneliti senior Universitas Bristol, Sam Eriksen, dalam konferensi TeV Particle Astrophysics 2026 di Jepang.
Deteksi Sinyal Tunggal di Kedalaman Bawah Tanah
Dalam pengujiannya, para peneliti menguji hipotesis bahwa jika partikel materi gelap yang dinamakan WIMP (weakly interacting massive particle) menabrak inti atom xenon, reaksi tersebut akan memancarkan dua kilatan cahaya khusus.
Dari analisis data selama 220 hari pengamatan (periode Maret 2023–April 2024), tim menemukan satu peristiwa interaksi langka yang tercatat pada 16 Juni 2023.
Tanggal Deteksi : 16 Juni 2023 (Dipaparkan pada Konferensi 2026)
Lokasi : SURF, South Dakota (Bekas Tambang Emas)
Fasilitas : Tangki Bawah Tanah Xenon Cair Kemurnian Tinggi
Jumlah Peneliti : 250 Ilmuwan dari 38 Institusi
Kendati demikian, para fisikawan bersikap sangat hati-hati dan menegaskan bahwa hasil ini belum bisa diklaim sebagai deteksi terkonfirmasi secara langsung atas materi gelap.
"Kami tidak itersebut dipaparkan oleh peneliti senior Universitas Bristol, Sam Eriksen, dalam konferensi TeV Particle Astrophysics 2026 di Jepangsikawan dari Universitas Brown.
Misteri Komposisi Alam Semesta: Apa Itu Materi Gelap?
Hingga saat ini, materi biasa—yaitu segala hal yang dapat kita lihat, sentuh, dan amati di bumi maupun luar angkasa—hanya menyusun 5% dari total isi alam semesta. Sisanya didominasi oleh komponen tak terlihat:
- Energi Gelap (Dark Energy): Menyusun sekitar 68% alam semesta dan berperan mendorong pemuaian galaksi secara cepat.
- Materi Gelap (Dark Matter): Menyusun sekitar 27% materi alam semesta. Tidak memantulkan cahaya maupun radiasi elektromagnetik, namun keberadaannya terdeteksi lewat pengaruh gaya gravitasinya terhadap galaksi.
Keberadaan dark matter pertama kali dicetuskan pada 1930-an oleh astronom Swiss, Fritz Zwicky, ketika melihat pergerakan galaksi di Gugus Coma yang terlalu cepat dari massa yang tampak.
Langkah Besar Dunia Fisika Modern
Meskipun baru menemukan satu sinyal interaksi, komunitas ilmuwan menyambut gembira hasil tersebut karena sinyal tidak hilang setelah diuji berulang kali.
Fisikawan Universitas Sydney, Theresa Fruth, menyebut temuan ini sangat menjanjikan karena konsistensinya. Di sisi lain, badan antariksa NASA juga telah mengumumkan proyek Teleskop Luar Angkasa Nancy Grace Roman senilai 4 miliar dolar AS yang difokuskan untuk memetakan fenomena materi dan energi gelap di jagat raya.

Posting Komentar