Hadir di Festival Fronteira 2026, Presiden Timor Leste Minta Kerja Sama Bilateral Indonesia-Timor Leste Lebih Konkret
![]() |
| Keterangan foto: Presiden Timor Leste José Ramos-Horta menghadiri hari kedua Festival Fronteira 2026 di Kabupaten Lautem, Sabtu (24/10/2026). |
Proletar.id, Dili - Presiden Timor Leste José Ramos-Horta meminta pemerintah Indonesia dan Timor Leste menghentikan penambahan nota kesepahaman (Memorandum of Understanding/MoU) baru dan memprioritaskan pelaksanaan kesepakatan yang telah ditandatangani.
Penegasan tersebut disampaikan Ramos-Horta saat menghadiri hari kedua Festival Fronteira 2026 di Kabupaten Lautem, Timor Leste, Sabtu (24/10/2026).
Ia menilai, kerja sama bilateral tidak seharusnya berhenti pada penandatanganan dokumen, tetapi harus diwujudkan melalui program konkret yang memberikan manfaat bagi masyarakat kedua negara.
Menurut Ramos-Horta, persoalan utama dalam sejumlah kerja sama bukan terletak pada kurangnya kesepakatan, melainkan pada minimnya realisasi efektif dari berbagai MoU yang telah dibuat.
Karena itu, ia mendorong kedua negara mengalihkan perhatian dari penambahan dokumen kerja sama menuju pelaksanaan kesepakatan yang sudah ada.
Selain menyoroti efektivitas kerja sama bilateral, Ramos-Horta juga menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan Timor Leste saat ini berlangsung harmonis dan aman.
Ia menunjukan keberadaan lebih dari 10.000 pelajar Timor Leste yang menempuh pendidikan di Indonesia sebagai salah satu gambaran eratnya hubungan kedua negara. Selain itu, aktivitas ekonomi masyarakat di kawasan perbatasan juga terus berjalan, termasuk mobilitas warga Timor Leste yang berbelanja ke Atambua, Kabupaten Belu, setiap akhir pekan.
Ramos-Horta bahkan mengungkapkan kedekatannya dengan Atambua melalui pengalaman kuliner. Ia mengaku menyukai makanan di kota perbatasan tersebut, termasuk KFC yang menurutnya lebih enak dibandingkan dengan yang pernah dinikmatinya di New York.
Dalam aspek rekonsiliasi, Presiden Timor Leste itu menilai kedua negara tidak perlu terus-menerus terjebak dalam pembicaraan formal mengenai rekonsiliasi. Ia mengingatkan bahwa dialog antara para pemimpin Indonesia dan Timor Leste telah berlangsung sejak 1999, termasuk pada masa pemerintahan Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono.
Bagi pihak-pihak yang masih memiliki persoalan, Ramos-Horta mendorong penyelesaian melalui pendekatan kekeluargaan dan adat.
“Silakan duduk di bawah pohon dan selesaikan,” ujarnya.
Ramos-Horta juga menyapa kehadiran 20 delegasi Forum Komunikasi Pejuang Timor-Timur (FKPTT) yang mengikuti rangkaian kegiatan Festival Fronteira 2026.
Kehadiran delegasi FKPTT menjadi bagian dari pertemuan yang mempertemukan berbagai pihak dalam upaya memperkuat hubungan masyarakat serta membangun pemahaman bersama antara Indonesia dan Timor Leste.
Melalui Festival Fronteira 2026, diharapkan menjadi ruang dialog untuk memperkuat hubungan lintas batas, mendorong penyelesaian persoalan melalui pendekatan budaya, serta memastikan kerja sama bilateral bergerak dari kesepakatan formal menuju pelaksanaan nyata.***

Posting Komentar