IMAN Kupang Dorong Penyelesaian Persoalan SD GMIT Oesusu Lewat Dialog dan Pendekatan Restoratif
Proletar.id, Soe - Ikatan Mahasiswa Amanatun (IMAN) Kupang mendorong penyelesaian persoalan yang melibatkan guru, siswa, dan orang tua siswa di SD GMIT Oesusu, Desa Kua Leu, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), melalui dialog dan pendekatan restoratif.
Ketua Umum IMAN Kupang, Deki Selan, menilai sekolah seharusnya menjadi ruang yang aman, nyaman, dan interaktif bagi guru maupun siswa dalam menjalankan proses pembelajaran.
Menurut Deki, persoalan yang terjadi di lingkungan pendidikan perlu disikapi secara bijaksana dengan mengedepankan evaluasi serta perbaikan hubungan antarpihak, bukan semata-mata melalui penghakiman.
“Sekolah semestinya menjadi tempat yang nyaman bagi guru dan siswa dalam menjalankan proses pembelajaran,” kata Deki dalam keterangannya kepada Proletar.id, Minggu (10/10/2026).
Ia menjelaskan, penyelenggaraan pendidikan tidak hanya menjadi tanggung jawab sekolah. Keluarga dan masyarakat juga memiliki peran penting dalam membentuk karakter serta mendukung perkembangan peserta didik.
Deki merujuk pada konsep Tri Pusat Pendidikan yang diperkenalkan Ki Hajar Dewantara, yakni pendidikan melalui lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat. Ketiga lingkungan tersebut, menurutnya, harus berjalan selaras untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas.
Karena itu, ketika muncul persoalan yang menyimpang dari tujuan pendidikan, seluruh pihak perlu melakukan evaluasi secara menyeluruh agar akar masalah dapat ditemukan dan diselesaikan dengan baik.
Ia menegaskan, penyelesaian persoalan di SD GMIT Oesusu tidak semestinya hanya berorientasi pada penghukuman terhadap pihak yang dianggap bersalah. Lebih dari itu, proses penyelesaian perlu diarahkan untuk memperbaiki hubungan serta memulihkan komunikasi antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Deki mengusulkan pendekatan ekologis atau sistemik yang melibatkan seluruh unsur dalam lingkungan pendidikan, disertai pendekatan restorative justice atau keadilan restoratif.
Menurutnya, pendekatan tersebut dapat menjadi jalan untuk membangun kembali hubungan yang mengalami keretakan, sekaligus menciptakan lingkungan pendidikan yang lebih sehat dan kondusif.
Ia menilai, penyelesaian melalui dialog dan evaluasi bersama juga dapat memberikan pembelajaran positif bagi siswa. Anak-anak dapat belajar memahami persoalan, memaafkan, serta mencari jalan keluar melalui komunikasi yang baik.
Selain itu, kata Deki, penyelesaian secara dialogis diharapkan dapat mencegah tumbuhnya kebencian antara siswa dan guru, serta memperkuat keharmonisan hubungan di lingkungan sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Bagi IMAN Kupang, persoalan di lingkungan pendidikan harus menjadi momentum untuk memperbaiki pola komunikasi dan kerja sama seluruh pihak yang terlibat.
Penyelesaian yang ditempuh tidak hanya meredakan persoalan yang sedang terjadi, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun lingkungan pendidikan yang aman, manusiawi, dan berorientasi pada kepentingan terbaik bagi anak.***

Posting Komentar