Proletar. Id, Kupang - Sebuah lumbung pangan di daratan menjadi titik berangkat untuk membangun cara baru menjaga laut di pesisir Solor Selatan, Flores Timur.
Namanya Kebang Lewa Lolon. Secara harfiah, konsep itu berarti lumbung di atas laut.
Gagasan tersebut dikembangkan Yayasan Tana Ile Boleng. Modelnya diadopsi dari sistem ketahanan pangan masyarakat Lamaholot.
Direktur Yayasan Tana Ile Boleng, Veronika Lamahoda, menjelaskan bahwa masyarakat Lamaholot sejak lama memiliki sistem untuk mengatur pangan dalam lumbung sederhana yang disebut Kebang.
Di dalamnya, pangan tidak sekadar disimpan. Ada aturan mengenai apa yang dikonsumsi, didistribusikan, dijual, dan disimpan untuk keberlanjutan.
"Memang berbentuk pondok sederhana, tetapi di dalam Kebang itu ada sistemnya,” ungkap perempuan yang akrab disapa mama Vero di kantor WALHI NTT, Kupang, Sabtu, (5/9/2026).
Menurut dia, pola tersebut kemudian dibawa ke laut. Tujuannya bukan memindahkan bentuk bangunan ke perairan. Yang diadopsi adalah cara masyarakat mengatur sumber daya.
“Kebang Lewa Lolon itu sebenarnya satu pola konservasi yang kami adopsi dari sistem ketahanan pangan di darat dan kami bawa ke laut,” katanya.
Model itu dikembangkan bersama masyarakat di pesisir Solor Selatan.
Masyarakat tidak ditempatkan sebagai penerima program. Mereka dilibatkan untuk menentukan bagaimana laut digunakan dan dilindungi.
Veronika mengatakan masyarakat adat, pemerintah desa, Badan Permusyawaratan Desa, nelayan, hingga perempuan dilibatkan dalam proses tersebut.
“Kerja kita tidak menjadi kerja NGO atau kerja LSM saja, tetapi itu menjadi kerja para pihak,” ujarnya.
Dalam konsep Kebang, laut tidak diperlakukan sebagai ruang yang bebas digunakan tanpa batas.
Kawasan dibagi berdasarkan fungsi. Ada wilayah yang dapat dimanfaatkan. Ada pula wilayah yang ditutup untuk menjaga keberlanjutan sumber daya.
Salah satunya disebut Neampuke.
“‘Nea’ itu bibit, ‘Puke’ itu pokok,” kata Vero.
Neampuke menjadi zona inti. Kawasan itu ditutup dan tidak boleh digunakan untuk aktivitas penangkapan.
Di dalamnya terdapat terumbu karang yang menjadi habitat ikan.
Ukuran kawasan berbeda di setiap desa. Ada yang mencapai lima hektare. Ada yang dua atau tiga hektare.
Pembagian tersebut mengikuti kondisi dan batas wilayah masing-masing desa.
Selain Neampuke, terdapat kawasan pemanfaatan yang disebut Keniki Baku. Keniki berarti makanan.
Kawasan itu menjadi ruang masyarakat untuk mencari sumber pangan sehari-hari. Namun pemanfaatannya tidak bebas.
Masyarakat menyepakati cara-cara penangkapan yang dianggap ramah lingkungan.
Kesepakatan itu kemudian dituangkan dalam dokumen pengelolaan Kebang. Ia diperkuat dengan kesepakatan adat.
Pelanggaran dapat dikenai sanksi adat. Bentuk sanksinya berbeda antara satu desa dan desa lainnya.
Veronika mengatakan yayasannya tidak masuk untuk menentukan hukum tersebut.
Mereka menghormati masyarakat untuk mengambil keputusan sendiri.
“Kami menghormati hak mereka untuk memutuskan pemberlakuan hukum itu untuk kebaikan,” katanya.
Bagi Veronika, pendekatan tersebut lahir dari kehidupan masyarakat pesisir yang tidak hanya menjadi nelayan. Mereka juga petani.
Karena itu, sistem pangan di darat menjadi sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan mereka.
Di dalam Kebang, kata Veronika, terdapat ruang untuk bibit, hasil yang akan dijual, dan hasil yang dikonsumsi.
Ada pula bagian yang disimpan untuk keberlanjutan pangan hingga musim berikutnya.
Pola itu kemudian digunakan sebagai dasar untuk membangun tata kelola laut.
“Pola-pola ini kemudian saya mencoba mengaitkan dengan relasi budaya mereka, relasi ekonomi, relasi ekologis dengan laut,” ujarnya.
Pendekatan tersebut tidak dilakukan secara langsung. Yayasan terlebih dahulu mengkaji hubungan masyarakat dengan laut.
Kajian itu mencakup aspek budaya, ekonomi, dan ekologi.
Kondisi bawah laut juga diperiksa. Hasilnya digunakan sebagai dasar untuk mendorong konservasi.
Bagi Veronika, konservasi laut membutuhkan pendekatan yang berbeda dari daratan.
Laut saling terhubung. Kerusakan di satu tempat dapat berdampak pada kawasan lain. Karena itu, Kebang dibangun dengan pendekatan kawasan.
Kebang Lewa Lolon juga membawa gagasan tentang ketahanan pangan dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
Bagi masyarakat yang menggantungkan hidup pada pertanian dan laut, kedua sumber pangan itu dapat saling menopang.
“Kalau ada kegagalan di pertanian, mereka bisa melihat laut sebagai sumber daya berikutnya,” katanya.
Dengan cara itu, laut tidak hanya dipandang sebagai tempat mencari ikan. Ia menjadi bagian dari sistem ketahanan pangan masyarakat.
Protein dan karbohidrat dapat diperoleh dari dua ruang hidup yang berbeda tetapi saling berhubungan.
Bagi Veronika, inilah salah satu kekuatan Kebang Lewa Lolon.
Masyarakat tidak hanya diminta menjaga laut. Mereka diajak melihat laut sebagai bagian dari keberlanjutan hidup mereka sendiri.
Konsep itu kemudian diterapkan di pesisir tujuh desa.
Para pihak membangun kesepakatan melalui pertemuan dan semiloka bersama. Tujuannya menyusun tata cara pengelolaan sumber daya pesisir dan laut.
Dengan demikian, masyarakat yang sebelumnya dapat melakukan aktivitas di laut secara bebas mulai memiliki aturan bersama.
Veronika mengakui proses membangun Kebang tidak mudah.
Enam bulan pertama menjadi masa yang berat. Ia dan timnya datang dari wilayah pegunungan dan tidak memiliki pengalaman panjang bekerja di laut.
“Saya hampir mau pulang karena tantangannya terlalu berat,” katanya.
Namun mereka memilih tetap bekerja sambil belajar.
Bagi Veronika, kuncinya adalah menghargai masyarakat sebagai pemilik pengetahuan tentang ruang hidup mereka.
Masyarakat tidak cukup hanya diberi tahu. Mereka harus ikut menentukan.
“Kuncinya adalah bagaimana mengorganisir mereka untuk partisipasi yang bermakna,” katanya.
Dari sana, konservasi tidak lagi hanya menjadi proyek lembaga pendamping. Ia menjadi kesepakatan masyarakat.
Dan laut tidak lagi hanya dipandang sebagai ruang untuk mengambil. Ia mulai ditempatkan sebagai ruang hidup yang harus dijaga bersama.
Atas praktik tersebut, Veronika menerima Anugerah Sapariah Sadli pada 27 Agustus 2026 sebagai bentuk penghargaan terhadap perempuan penggerak aksi iklim.
Bagi Veronika, penghargaan itu bukan akhir. Justru menjadi tanggung jawab baru.
“Menerima penghargaan ini menjadi tanggung jawab yang makin berat,” katanya.
Ia ingin model yang telah dibangun bersama masyarakat itu terus dikembangkan.
Sebab, menurutnya, pengetahuan untuk menjaga ruang hidup tidak selalu datang dari luar.
Kadang ia sudah lama hidup di dalam masyarakat. Tinggal bagaimana pengetahuan itu dibaca kembali. Lalu dibawa ke ruang yang membutuhkan.
Dalam Kebang Lewa Lolon, pengetahuan tentang lumbung pangan di darat dibawa ke laut.
Bukan untuk menggantikan pengetahuan masyarakat. Tetapi untuk menghidupkannya kembali sebagai cara menjaga ruang hidup.***
Posting Komentar